Tuesday, February 10, 2009

Ruang Tunggu

Entah seberapa indahnya ruangan ini, tetap sesak.
Lamunan orang2 sakit menyekutukan aku pada sakitku.
Harapan mereka dapat sembuh ketika suster memanggil nama.
Lain aku, lain hatiku.
Tidak ada nilai kembali normal, hanya wajar.

Deringnya

Indah melas daun benalu, tak hina dan tak susah.
Katakan kalimat yang hampa, diberinya bahagia.
Aku berlindung dalam buaian kulit lembut dan berpijak pada akarnya.
Terlelap hingga dering pun datang kembali, ku menangis dalam kesendirian.
Tak punya pegangan, takut jatuh ke tanah lalu menjadi indung benalu.
Dering pun semakin keras, dari sebuah nada menjadi lagu, lagu cinta yang kelam.

Mereka disini, aku sudah tau mereka ada disini.

Jerit Jelantah

Aaaaaaaaaaaaaaaaaa.....
Hanyalah bekas,
seperti ban bekas,
dibuang.
Pikir lebih dalam,
apakah pantas dibuang

Maskerad

Ratu dibelakang raja memberi titah,
pelan namun menjerit dibelakang telinga.
Tak ingin salah meski ia salah,
tak ingin bungkam walau sudah tiba waktunya.
Bukan salah siapa2 jika Raja menangis di gelap malam taman keputrian.
Ribuan perang ditumbalkan, ribuan saji terhamparkan.
Lemah gemulai sang Raja, lukisan sang Ratu dalam tidurnya.

Bahu Raga

Dunia pada pertumbuhannya,
sorak sorai menggelegar hingga darah menuju ke otak,
berhenti. Ini hanya medan laga, kita orang hanya manusia.
Kita baca yang kita tulis,
kita makan apa yang kita tanam.
Seberapa kuat dirimu menopang beban,
hanya Dia yang tau.

Sucikan

Siapa setan sebenarnya adalah aku, jadikanku Allah bagi nafas jiwaku maka setanku akan meninggalkan surgaku

Humfanis

Sadarkah kamu akan menduakan cinta berarti anugerah. Sebuah tanda jika kita adalah wujud asli manusia yang memiliki hati. Tak mampu meninggalkan kekasih untuk menikahi janji yang sebelumnya...

sakit kepala

Tahukah kamu bahwa hidup ini kita hanya bereperan?
Menjalani apa yang sudah digariskan tuhan.
Tapi apa sebabnya kita bisa sakit, senang, sedih?
takdir atau memang hanya kita yang memilih.
Ya, seperti bangun dipagi hari dan menyetel lagu keras-keras