bola-bola panas kejar-kejaran dalam tubuhku,
dan mereka mengacaukan sistem pertahanan vital satu-satunya yang kumiliki.
sedangkan para kurcaci sel otak terus menerus mengeluarkan perintah untuk beraktivitas
tanpa henti.
deretan kegiatan antri dengan sabar untuk dikerjakan,
aku hanya memilih mana yang paling ringan-paling cepat,
dan lagi-lagi aku berhadapan dengan perintah yang paling sabar menunggu:
namanya skripsi.
tiba-tiba ada seorang perempuan gempal tergopoh-gopoh datang ke singgasanaku
dengan muka ceria ia datang membawa sebuah berita dan berkata:
" tempat tidur sudah rapih dan selimut tebal yang baru sudah dicuci dan siap dipakai Tuan Puteri. "
aku buang muka.
dia melengos pergi menuju ujung kamarnya,
sementara aku berusaha setengah mati untuk tidak tertarik pada tawaran bangsatnya.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment